Puji Tuhan dan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Dr.Binarwan Halim dan seluruh staff HFC Medan atas kesabaran, kebijaksanaan dan kerjasamanya selama kami mengikuti program IVF/ICSI di HFC Medan. Sehingga tepat tanggal 04 Juni 2013 yang lalu kami dianugerahi “Twin Baby Girls” yang bernama “Isabel Alice Girsang & Annabel Vera Girsang “. Setelah penantian panjang dan melelahkan ( 8 tahun usia perkawinan), kami dipertemukan dengan Dr. Binarwan Halim dan memulai program di ...
28 Apr 2014
Veriati & Raja G
Medan
 
PREMARITAL TEST
Premarital Test merupakan upaya untuk melakukan pendeteksian dini terhadap kemungkinan masalah kesehatan, memudahkan pasangan yang akan menikah nantinya untuk mempersiapkan diri atas masalah kesehatan yang bisa saja terjadi karena ditularkan oleh pasangan, ataupun yang akan diturunkan nantinya terhadap sang buah hati. Pemeriksaan kesehatan ini dianjurkan minimal 6 bulan sebelum menikah.

Premarital Test meliputi :
- Pemeriksaan riwayat kesehatan umum, misalnya fisik dari kedua pasangan.
- Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui kadar hemoglobin sebelum kehamilan,  
  adanya infeksi atau kelainan darah.
- Tes gula darah. Apakah kedua orangtua mempunyai riwayat penyakit diabetes dan bisa
  saja anak berpotensi mengalami penyakit yang serupa.
- Pemeriksaan TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus, dan Herpes
  Simpleks).
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit bersel satu (protozoa) bernama Toxoplasma gondii. Sekitar 80-90% infeksi Toxoplasma tidak bergejala (asymptomatic). Gejala infeksinya-pun bisa mirip flu, demam dan sakit tenggorokan. Penelitian menunjukkan bahwa Toxoplasma sering ditemukan pada hewan peliharaan terutama kucing. Penularan terjadi ketika manusia menyentuh kotoran atau tanah bekas kotoran hewan peliharaan. Resiko infeksi juga meningkat ketika mengonsumsi daging mentah atau kurang masak. Infeksi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan hewan peliharaan, mengenakan sarung tangan saat membersihkan kotoran hewan, mencuci tangan setelah menyentuh tanah, dan menghindari konsumsi daging yang kurang masak. Wanita hamil seharusnya menjauhi kotoran hewan peliharaan. Toxoplasma yang terdeteksi sebelum kehamilan bisa segera diobati sehingga mencegah penularan ke fetus.
Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang umumnya menyerang anak-anak. Infeksi Rubella biasanya tidak berbahaya dan virus akan hilang dengan sendirinya. Penderita bahkan belum tentu mengalami gejala apapun. Kekebalan terhadap Rubella akan didapat setelah sembuh dari infeksi. Gejala Rubella mudah terlewatkan karena bisa mirip flu yaitu batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, pegal-pegal, dan demam. Gejala juga bisa disertai dengan munculnya bintik-bintik merah (rash) yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Namun bintik-bintik ini biasanya hilang dalam seminggu. Penanganan biasanya cukup dengan beristirahat dan minum obat anti demam.
HBV menyerang liver dan bisa menyebabkan cirrhosis (pengerasan pada liver), kanker, gagal fungsi liver, dan kematian. Gejala infeksi HBV adalah perubahan warna kulit dan bola mata menjadi kuning (jaundice), sakit perut, nafsu makan hilang, mual, dan sakit sendi. Penularan bisa terjadi melalui hubungan sex bebas, konsumsi narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril, cuci darah (hemodialysis), atau dari ibu ke janin yang dikandung. Ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi HBV bisa menularkan virus ini kepada janinya dengan 90% resiko penularan.
Hepatitis B Virus (HBV). Infeksi HBV bisa dicegah dengan vaksinasi Hepatitis B, menghindari perilaku seks bebas, menghindari narkoba atau tato kulit, dan menghindari pinjam-meminjam peralatan pribadi yang kemungkinan pernah bersentuhan dengan darah seperti pisau cukur dan sikat gigi.
Infeksi HBV dideteksi dengan tes HBsAg pada darah. Ibu hamil dengan HBsAg positif harus menyediakan Hepatitis B Immuno Globulins (HBIG) dan vaksin untuk bayinya yang harus disuntikan dalam waktu 12 jam setelah dilahirkan.
Infeksi HSV 2 adalah penyakit hubungan seksual (PHS) dengan masa inkubasi rata-rata 7 hari setelah hubungan sex. HSV 2 bisa ditularkan ketika bersentuhan dengan air liur, cairan di alat kelamin, atau luka pada kulit pengidap HSV.
Genital Herpes Simplex Virus (HSV Type 2). Tanda-tanda infeksi HSV 2 berupa luka-luka pada kulit (lesions) di sekitar alat kelamin yang akan sembuh sendiri setelah sekitar tiga minggu dan bisa muncul lagi di lain waktu (recurrence). HSV 2 dapat ditularkan dari ibu ke bayi saat melahirkan dan mungkin pula mengakibatkan keguguran atau cacat mental. Resiko penularan ke bayi meningkat jika terdapat lesions di sekitar liang vagina. Hingga saat ini belum ada obat untuk menghilangkan HSV 2. Namun obat seperti Acyclovir biasanya diberikan untuk menekan pertumbuhan, mencegah recurrence, dan meminimalkan penyebaran virus.
- VDRL atau TPHA untuk memeriksa adanya infeksi sifilis (PMS).
Syphilis adalah salah satu PHS yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini sangat sensitif terhadap cahaya, udara, dan perubahan suhu udara. Maka penularan syphilis tidak bisa terjadi karena menggunakan kakus, kamar mandi, baju, atau peralatan makan yang digunakan oleh penderita syphilis.  Penularan bisa terjadi dengan berciuman, bersentuhan dengan luka kulit penderita syphilis, transfusi darah, atau penularan ke fetus melalui aliran darah ke plasenta.
Luka syphilis bisa tersembunyi di dalam liang vagina atau dubur sehingga penderita tidak menunjukkan tanda-tanda apapun dari luar. Luka syphilis mempermudah masuknya virus HIV. Maka HIV sering ditemukan pada pasien syphilis dan sebaliknya.
Syphilis terdiri dari empat tahap. Gejala tahap pertama (primary) biasanya muncul 10 hari hingga tiga bulan setelah terinfeksi dan berupa luka kecil yang tidak sakit (chancre) pada bagian tubuh di mana infeksi terjadi pertama kali. Luka biasanya ditemukan di daerah alat kelamin, dubur, lidah, atau bibir. Gejala tahap pertama syphilis biasanya akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Namun bakteri Treponema tetap ada dan syphilis akan memasuki tahap ke-dua jika tidak segera diobati.
Gejala tahap ke-dua (secondary) syphilis biasanya mulai terlihat dua hingga sepuluh minggu setelah luka kecil terlihat. Gejala secondary syphilis meliputi demam, kelelahan, dan bercak-bercak berwarna merah atau coklat kemerah-merahan sebesar uang koin di beberapa bagian tubuh termasuk telapak tangan dan kaki. Gejala-gejala ini bisa  timbul-hilang berulang-ulang selama setahun.
Syphilis yang tidak diobati pada tahap primary dan secondary akan memasuki tahap latent. Latent syphilis tidak menunjukkan gejala apapun hingga penyakit memasuki tahap ke-tiga (tertiary) yang berbahaya. Tertiary syphilis bisa menyebabkan inflamasi otak, kelumpuhan, gangguan pengelihatan dan pendengaran, gangguan jantung, dan bahkan kematian. Gejala tertiary syphilis bisa muncul bertahun-tahun kemudian sejak infeksi pertama.
Syphilis yang ditularkan dari ibu ke anak dapat menyebabkan keguguran atau gangguan pendengaran dan penglihatan, atau abnormalitas tulang dan gigi pada bayi. Oleh karena itu pendeteksian dini infeksi syphilis pada calon pasutri sangat penting terutama karena syphilis mudah diobati selama masih pada tahap-tahap awal. Pengobatan syphilis adalah dengan antibiotik Penicillin. Namun harus diingat bahwa kekebalan terhadap syphilis tidak akan didapat setelah sembuh. Resiko terinfeksi ulang karena perilaku sex bebas tetap ada.
- Tes antibodi terhadap virus yang menyebabkan penyakit hepatitis, terutama hepatitis B
   yang bisa menular lewat darah dan hubungan seksual.
- Tes deteksi HIV (Human Immuo Deficiency Virus).
- Tes urine buat periksa kemungkinan infeksi di saluran kemih atau kelainan lain di
   saluran kemih.
 
BACA JUGA
copyright ©2017 HFC Medan
all rights reserved.